Hampir semua kelompok KKN memberi plakat. Dan justru itu masalahnya: balai desa yang rutin menerima mahasiswa biasanya sudah punya satu rak penuh plakat, dari angkatan demi angkatan, dengan bentuk yang hampir sama.
Di bawah dibahas dua jenis kenang-kenangan yang sebenarnya dibutuhkan, kenapa keduanya berbeda tugas, dan berapa yang wajar dipatungan satu kelompok.
Kenapa banyak yang cari kenang-kenangan KKN selain plakat?
Karena plakat menyelesaikan satu hal saja, yaitu formalitas serah terima. Dia menandai bahwa kelompok kalian pernah ada, lalu selesai.
Yang bikin banyak kelompok akhirnya mencari yang lain biasanya salah satu dari tiga ini:
- Plakatnya jadi yang kesekian. Di desa yang tiap tahun menerima KKN, plakat baru masuk ke barisan plakat lama dan sulit dibedakan.
- Nggak ada yang bisa dilihat lagi sesudahnya. Plakat menyebut nama kampus dan periode, tapi nggak menyimpan siapa yang datang.
- Anggarannya terasa nggak sepadan. Patungan satu kelompok bisa lumayan besar, dan hasilnya benda yang bentuknya sama dengan yang dijual di mana-mana.
Jadi pertanyaannya bukan “plakat atau bukan”, tapi apa yang sebenarnya ingin kalian tinggalkan.
Dua jenis kenang-kenangan, dan keduanya punya tugas berbeda
Ini pembedaan yang paling menolong, dan paling sering dicampur sampai akhirnya dua-duanya setengah jadi.
| Yang bermanfaat | Yang mengenang | |
|---|---|---|
| Tugasnya | dipakai desa setiap hari | menyimpan siapa yang pernah datang |
| Contohnya | papan nama, tempat sampah, rak buku, perlengkapan posyandu, papan informasi | karya berisi wajah seluruh kelompok, album kegiatan, plakat |
| Umurnya | habis terpakai, dan memang begitu seharusnya | dipajang bertahun-tahun |
| Yang mengingat | nggak ada, karena jadi barang biasa | perangkat desa yang dulu menerima kalian |
Kalo anggarannya cukup, berikan satu dari masing-masing kolom. Yang bermanfaat menjawab kebutuhan desa, yang mengenang menjawab kenapa kalian ingin dikenang. Satu benda yang dipaksa mengerjakan dua tugas biasanya gagal di dua-duanya.

Kalo yang dicari yang mengenang

Patokannya satu: yang ditinggalkan sebaiknya memuat orangnya, bukan cuma nama kampusnya.
Plakat menyebut “KKN Universitas X Periode Y”. Lima tahun lagi, yang membaca nggak tahu siapa saja yang datang. Sementara kelompok KKN biasanya berisi lima belas sampai tiga puluh orang yang tinggal berminggu-minggu di sana, dan sebagian dari mereka betul-betul dikenal warganya.
Bentuk yang bisa dipilih:
- Karya berisi seluruh kelompok dalam satu gambar. Karya di atas memuat tujuh belas orang dalam satu bingkai, dan jumlah segitu memang ukuran kelompok KKN pada umumnya.
- Album kegiatan yang dicetak, bukan dikirim sebagai file. File akan hilang bersama ponsel yang rusak.
- Papan foto bersama warga, kalo kalian memang dekat dengan orang-orang tertentu.
Yang sering dilupakan: tanggal dan periode KKN-nya harus ikut tertulis. Tanpa itu, sepuluh tahun lagi bendanya kehilangan separuh maknanya. Contoh tulisan untuk berbagai bentuk kenang-kenangan ada di contoh tulisan kenang-kenangan, termasuk kelompok khusus KKN, PKL, dan magang.
Berapa patungan yang wajar per anggota?
Ini yang bikin kenang-kenangan KKN sebenarnya lebih longgar daripada kelihatannya: anggotanya banyak, jadi angka per orang kecil.
Kelompok berisi dua puluh orang membagi biaya jadi seperdua puluh. Barang yang kelihatan mustahil untuk kantong satu mahasiswa jadi ringan begitu dibagi. Ini keunggulan yang persis sama dengan kado kantor, cuma jarang disadari kelompok KKN karena terbiasa berpikir “kita kan mahasiswa”.
Urutan yang bikin patungannya lancar:
- Tentukan barangnya dulu, baru sebarkan angkanya. Kalo yang dilempar duluan pertanyaan “mau patungan berapa”, jawabannya terkumpul di angka terkecil.
- Sebut angka per orang, jangan totalnya. Total selalu terdengar lebih besar dari yang akan dibayar masing-masing.
- Kumpulkan di awal periode, bukan di akhir. Di minggu terakhir semua orang sudah sibuk laporan, dan itu waktu paling buruk untuk menagih.
Kapan mulai menyiapkan
KKN punya keuntungan yang jarang dimiliki momen lain: tanggal selesainya sudah diketahui sejak hari pertama. Tapi hampir semua kelompok baru mengurusnya di minggu terakhir.
Patokan yang aman: mulai dua minggu sebelum penarikan. Bukan karena pengerjaannya lama, tapi karena yang lambat itu mengumpulkan uang dan menyepakati bentuknya di grup berisi dua puluhan orang yang semuanya lagi mengejar laporan.
Satu hal yang gampang diurus lebih awal dan sering terlewat: foto kelompok lengkap. Di minggu terakhir biasanya sudah ada yang pulang duluan, dan mengumpulkan semua orang jadi mustahil. Foto di minggu kedua atau ketiga jauh lebih mudah, dan itu sudah cukup jadi bahan.
Kalo penerimanya bukan desa
Untuk PKL dan magang, penerimanya biasanya satu instansi atau satu divisi, bukan satu kampung. Bedanya dua:
- Yang menerima orangnya lebih sedikit dan lebih jelas, biasanya pembimbing lapangan dan kepala unitnya. Jadi kenang-kenangan yang menyebut nama mereka masuk akal, sementara untuk desa lebih pas menyebut lembaganya.
- Bentuknya perlu lebih formal, karena akan dipajang di ruang kerja, bukan di balai desa.
Kalo yang kalian siapkan kenang-kenangan untuk instansi pemerintah, pertimbangannya kami bahas terpisah di kenang-kenangan instansi.
Sesudah bentuknya diputuskan
Cara kerja, bentuk, dan pilihan cetaknya ada di jasa karikatur digital. Kalo kelompok kalian besar dan perlu tahu angka totalnya dulu supaya bisa dibagi, hitungannya terbuka di harga karikatur wajah. Yang paling menentukan bukan gayanya, tapi berapa wajah yang ikut masuk.
Kalo lokasi KKN kalian jauh dari Jakarta maupun Surabaya dan waktunya mepet, ada jalan keluar yang sering menolong: ambil file digital resolusi tingginya saja, lalu cetak di kota terdekat. Nggak ada ongkos kirim dan nggak ada waktu di jalan.
Sebutin tanggal penarikannya lewat WhatsApp, nanti kami cek keburu atau nggak. Gratis, dan nggak harus langsung pesan.